Tradisi Belangiran Lampung, Budaya Menyucikan Diri Menjelang Ramadhan

Belangiran Lampung

Tradisi Belangiran Lampung – Dalam menyambut bulan suci Ramadhan, tentu tiap-tiap daerah di Indonesia memiliki budaya yang berbeda-beda. Namun ironisnya, di tengah mendekati angka setengah miliar penduduk Indonesia zaman now, budaya warisan nenek moyang bangsa ini seakan nyaris tergerus oleh peradaban modern.

Disitulah terkadang saya menangis tanpa meneteskan air mata. Sedalam itu, saking sedihnya kah? Bisa jadi!

Tapi Alhamdulillah, beruntunglah saya sebagai masyarakat Lampung. Kota dimana tempat saya menghirup udara sehari-hari yakni Bandar Lampung, selalu menjunjung tinggi nilai-nilai budaya leluhur dengan selalu menjaga dan melestarikan apa yang menjadi warisan dari nenek moyang. Salah satunya, tradisi bernama Belangiran.

Disitulah juga terkadang saya tertawa lebar dengan suara HA’. Segitu aja, saking bahagianya kah? Bahagia sekali rasanya, hingga tertawa pun sedemikian rupa suaranya!

Meskipun ayah saya berasal dari Sumatera Selatan, bukan berarti saya tidak berhak atas budaya Lampung. Karena sebagian darah yang mengalir dalam tubuh ini berasal dari rahim seorang ibu yang notabene asli suku Lampung.

Menggala. Ya, sebuah kota di Kabupaten Tulang Bawang, Lampung itulah kampung halaman ibu saya. Tepatnya di desa Ujung Gunung Udik, Jalan 3, nomornya saya lupa. Begitulah kira-kira singkatnya!

Makna dan Tujuan Tradisi Belangiran Lampung

Jika dalam masyarakat Jawa ada tradisi Padusan, di Minangkabau ada Balimau, maka dalam masyarakat Lampung ada tradisi Belangiran. Yakni ritual mandi untuk menyucikan diri sebelum menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan.

Dengan demikian, tradisi ini diharapkan mampu menjauhkan hati dan jasmani dari rasa benci, dendam, sombong, iri hati atau dengki dan agar lebih khusyuk lagi selama menjalankan ibadah puasa dari awal hingga selesai nanti.

Proses Belangiran ini biasanya dilakukan masyarakat bersama tokoh adat, pemuda-pemudi, hingga petinggi pemerintahan.

Selain sebagai bentuk rasa syukur dalam menyambut dan memaknai datangnya bulan Ramadhan, tradisi Belangiran Lampung juga bertujuan sebagai upaya untuk melestarikan sekaligus melindungi budaya daerah Lampung agar tidak punah seiring perubahan zaman.

Prosesi Belangiran Masyarakat Lampung

Prosesi Belangiran yang diikuti oleh ribuan warga Bandar Lampung mulai dari anak-anak hingga orang dewasa ini, biasanya dilakukan di Kali Akar. Sebuah sungai di kaki gunung yang berada di Kelurahan Sumur Putri, Kecamatan Teluk Betung Utara, Kota Bandar Lampung.

Belangiran Lampung
Gambar dari: pikiranlampung.com

Aktivitas dimulai dengan puluhan muli mekhanai (pemudi dan pemuda Lampung) yang berbaris rapih dengan membawa talam berisi tangkai padi, bunga 7 rupa dan sekam yang sudah dibakar. Setelah membasuh sebagian anggota tubuh dengan Air Langir, satu persatu muli mekhanai ini masuk ke dalam sungai, kemudian mereka saling menyiramkan air satu sama lain.

Di dalam sungai itulah tradisi mandi untuk menyucikan diri berlangsung. Biasanya masing-masing dari anggota keluarga yang mengikuti prosesi ini, mendapatkan satu gayung Air Langir untuk memulai mandi.

Belangiran Lampung
Gambar dari: tribunnews.com

Beberapa perlengkapan yang digunakan dalam prosesi Belangiran yaitu Air Langir, bunga 7 rupa, daun pandan dan setanggi. Air Langir sendiri adalah air yang diambil 2 hari sebelumnya dari 7 sungai (mata air) yang berbeda di sekitar sungai yang akan dijadikan tempat berlangsungnya acara tersebut.

Mengingat semakin kritisnya pelestarian budaya di tengah perubahan zaman saat ini, momen tahunan dari tradisi Belangiran Lampung adalah wujud kepedulian masyarakat Bandar Lampung terhadap budaya warisan nenek moyang.

Nah, ingin menyaksikan secara langsung keunikan dan keseruan tradisi Belangiran Lampung? Pastikan menjelang Ramadhan tahun depan Anda berada di Kota Bandar Lampung, ya!

Itulah sedikit gambaran tentang budaya masyarakat Lampung. Betapa keanekaragaman budaya yang ada di seluruh Nusantara tercinta ini, sangatlah indah dan unik jika kita selalu berupaya untuk menjaga dan melestarikannya sepanjang waktu.

“Mak Kham Sapow Lagei, Mak Tanow Kapan Lagei”

Sahabat Tebarpesona ingin tahu translate dari kalimat di atas? Hubungi saya, Rustam Renaldy 😁✌️

#SalamTebarPesona

Tapis Blogger
** Tulisan ini diikutsertakan dalam Program Tematik Ramadhan di Lampung Bersama Tapis Blogger.

24 thoughts on “Tradisi Belangiran Lampung, Budaya Menyucikan Diri Menjelang Ramadhan”

  1. Nice info. Saya jadi tau ternyata di Lampung ada juga tradisi serupa seperti padusan atau adus atau mandi. Tapi saya pribadi gak pernah ikutan acara tradisi ini, soalnya gede di kota Jakarta. Tau tradisi-tradisi ini aja dari internet, hahaha

  2. saya kayaknya tidak menemukan tradisi “sebelum” puasa di Lombok ini.. justru tradisi yang paling kuat adalah pada hari 7 syawal nanti setelah lebaran.. 😁

    1. Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Begitulah kira-kira ya sob 😁

      Seperti setelah hari 7 Syawal atau seminggu setelah Idul Fitri di Lombok yang biasa melakukan tradisi “Lebaran Topat”. Itulah uniknya keanekaragaman Negeri kita tercinta ini.

      Terimakasih sudah mampir.

  3. Jujur baru tau kalau di Lampung ada Tradisi Belangiran ini. Terimakasih infonya, BTW selain ini apakah ada lagi trasdisi yang serupa ya om di Lampung.

    1. Meskipun Belangiran saat ini sudah sangat jarang sekali kita temui, tapi masih ada sebagian dari masyarakat Lampung yang tetap melaksanakan tradisi ini. Selain Belangiran, sebenarnya masih banyak tradisi di Bumi Ruwa Jurai ini namun kurang terekspos secara publik.

      Terima kasih sudah mampir dan sukses selalu MajalahLampung.

      Salam.

  4. Seru juga ya mas tradisi Belangiran ini, semoga dibalik keseruan itu tetap menjaga kelestarian budaya lokal untuk generasi berikutnya

    1. Cukup seru dan menarik mbak. Ya, berharap demikian agar budaya yang ada tidak punah seiring zaman.

      Terima kasih sudah mampir, mbak. Salam.

  5. Mandi bareng deh jadinya hehe
    Saya kira udah ga ada tradisi itu di lampung lo

    Kira arti quotenya itu, kalau bukan kita siapa lg, kalau tidak sekarang kapan lagi. Mudah2an bener 😀

    1. Ya, mandi massal. Alhamdulillah masih tetap terpelihara.

      Secara ibu guru mah udah pasti tau lah arti quote di atas, tepat sekali. Untuk klaim hadiah, tinggal kirim biodata lengkapnya. Hehe

  6. Alhamdulillah didaerah gua, tradisi menyambut bulan suci Ramadhan masih ada dan tetap dilaksanakan kayak di Lampung hehe,

  7. Istilah Belangiran ada juga di Daerah saya OKU , intinya sama, sama2 mandi, namun mandinya menggunakan bahan2 tradisional seperti jeruk purut, daging kelapa tua, dll lain2.

    Biasanya dilakukan oleh Para Ibu – ibu. 🙂

    1. Meskipun masing-masing daerah berbeda dari prosesi dan kelengkapan, namun sebenarnya makna dan tujuannya sama, yaitu mandi untuk membersihkan diri menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Hanya saja ada yang dilakukan diruang lingkup keluarga saja, ada pula yang secara massal.

  8. Tabik pun, kik mak gham sapa lagi ijah gham bebaghong melestarikan adat Lampung, tradisi belangiran seperti menjadi tradisi turun temurun ya, saya dari sumsel ada juga tradisi belangir, tapi dulu waktu nenek masih ada, sejak nenek sudah almarhum sudah tidak begitu mutlak lagi dilakukkan
    saya ingat dulu nenek sengaja beli jeruk nipis dalam jumlah banyak yang diperintukkan untuk langiran, tapi tidak di sungai hanya di kamar mandi di rumah saja 😊🙏🏻

    1. Ya, terlepas dari pro dan kontra tentang hal ini, Belangiran adalah tradisi adat. Budaya suatu daerah warisan nenek moyang, tidak lebih dari itu!

  9. Idris

    Ternyata Lampung juga punya tradisi menyambut ramadhan, semarak bngat yaa

    1. Benar sekali Mas Idris. Semarak kebersamaan sangat nampak terasa dari acara tersebut. Rameee …

  10. Wah saya jadi tahu nih, Mas tradisi yang bernama Belangiran ini, betul setiap daerah memang berbeda-beda tradisininya. Dan beruntung bisa menyaksikan langsung ya, Mas.

    Btw, saya juga ada teman asal Lampung, tapi temanku di daerah Tanggamus, jauh kah dari tempat, Mas Rustam?

    1. Ya, sebuah tradisi yang unik dan menarik. Itulah sebabnya kita patut menjaga dan melestarikannya.

      Tanggamus ± 3 jam berkendara dari Kota Bandar Lampung tempat saya tinggal, Mas Andi. Lumayan jauh … 😀

      1. tradisi itu merupakan warisan budaya dari para leluhur , jadi sudah sepantasnya kita mengabadikan dan memperkenalkan tradisi terbut kepada dunia, agar keunikan serta nilai nilai tradisi tidak akan tergerus oleh peradaban zaman

        1. Sudah seharusnya begitu Mas. Hanya saja, dari waktu ke waktu budaya tersebut seakan semakin kritis di tengah kita saat ini.

Berikan Tanggapan Anda!